Tinjauan Filosofis Problematika Komponen dalam Pendidikan Islam dan Kontribusi Penyelesaiannya

 

Tinjauan  Filosofis  Problematika Komponen  dalam Pendidikan Islam dan Kontribusi penyelesaiannya

           Pendidikan merupakan usaha yang disengaja dilakukan oleh pendidik untuk mendewasakan anak didiknya, proses pendidikan dapat dilakukan dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan Islam adalah upaya membimbing, mengarahkan, dan membina peserta didik  yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Komponen-komponen pendidikan Islam dalam perspektif filsafat pendidikan terdiri atas tujuan pendidikan Islam, tenaga pendidik, peserta didik, kurikulum pendidikan Islam, metode, dan evaluasi. Tujuan pendidikan Islam dalam perspektif filsafat diartikan sebagai upaya dalam mewujudkan peserta didik yang dapat memahami ilmu-ilmu keIslaman dan umum serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Islam bertujuan untuk menyadarkan manusia akan tujuan diciptakannya manusia oleh Tuhan yang pernah berikrar bahwa manusia berasal dari Tuhan dan suatu saat akan kembali kepada-Nya untuk dimintai pertanggungjawaban. Untuk itu, pendidikan Islam berupaya mengembangkan segenap fitrah yang ada pada diri manusia agar menjadi insan kamil atau menjadi manusia seutuhnya manusia yang bisa menjadi khalifah sekaligus hamba yang baik yang mampu melaksanakan tugas dan fungsinya di muka bumi ini dengan baik.

Seorang pendidik atau tenaga pendidik dalam pendidikan Islam Dikutip dari Abudin Nata, pengertian pendidik adalah orang yang mendidik. Secara khusus pendidikan dalam persepektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan seluruh potensi peseta didik. Kalau kita melihat secara fungsional kata pendidik dapat di artikan sebagai pemberi atau penyalur pengetahuan, keterampilan. Dari istilah-istilah sinonim di atas, kata pendidik secara fungsional menunjukan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya, bisa siapa saja dan dimana saja. Secara luas dalam keluarga adalah orang tua, guru jika itu disekolah, di kampus disebut dosen, di pesantren disebut murabbi atau kyai dan lain sebagainya

Peserta didik  dalam perspektif filsafat pendidikan Islam di definisikan sebagai orang yang menginginkan pendidikan anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri dengan fitrahnya masing-masing melalui serangkaian proses pembelajaran. Dengan bimbingan yang baik peserta didik akan menuju keoptimalan kemampuan fitrahnya menjadi insan kamil atau manusia seutuhnya. Beberapa istilah lain dari peserta didik adalah murid, tilmidz, dan thalib al-ilmi. Dalam kajian filosofis peserta didik dipandang sebagai manusia seutuhnya, dimana mereka dipandang memiliki hak dan kewajiban dan juga harus memahami hak, kewajiban dan juga etika dalam melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya.

Komponen berikutnya ada kurikulum pendidikan Islam dalam perspektif filsafat yakni suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan tersebut. Ada tiga macam dasar penyusunan kurikulum yang
dinyatakan oleh Herman H. Home, yaitu
: a. Dasar Filosofis. Digunakan untuk mengetahui nilai yang akan dicapai (the kind of universe in which we live). b. Dasar Sosiologis. Digunakan untuk mengetahui tuntutan masyarakat (the legitimate demands of society) terhadap pendidikan. c. Dasar Psikologis. Digunakan untuk memenuhi dan mengetahui kemampuan yang diperoleh dan kebutuhan peserta didik (the ability and needs of children). Selanjutnya ada pendekatan dan  metode pendidikan Islam yang merupakan titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran, sedangkan metode dalam pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalah mempermudah mencapai tujuan dalam pendidikan Islam. Metode pendidikan Islam memiliki banyak sekali ragam metode seperti metode uquwah, khitabah, ceramah, hiwar, musyawarah, dan masih banya lagi. Metode sangat peenting karena mampu memberi makna pada materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum yang diajarkan kepada peserta didik, sehingga dapat dengan mudah diserap dan dipahami oleh peserta didik. Metode sangat penting digunakan oleh tenaga pendidik untuk memahami masing-masing karakter peserta didik yang tidak mungkin sama anatara satu dengan lainnya.

Komponen dalam pendidikan Islam yang terakhir dan sangat penting untuk emengukur bagaimana perkembangan peserta didik dan melihat sejauh mana pencapaian proses untuk mewujudkan tujuan pendidikan  Islam yaitu evaluasi, dalam perspektif filsafat pendidikan islam, dalam mendefinisikan evaluasi, secara harfiah berasal dari bahasa Inggeris evaluation; dalam bahasa Arab: al-Taqdīr; dalam bahasa Indonesia berarti: Penilaian. Akar katanya adalah value; dalam bahasa Arab: (al-Qīmah). Dengan demikian secara harfiah, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau hal-hal yang berkenaan dengan kegiatan pendidikan. Di dalam evaluasi pendidikan, terdapat empat komponen saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Artinya, kegiatan evaluasi harus melibatkan kegiatan lainnya, yaitu penilaian, pengukuran dan tes (nontes).

Dalam pendidikan Islam terdapat konsep ideal untuk mewujudkan harapan dari pendidikan Islam, Pendidikan Islam yang ideal adalah proses pendidikan yang mampu membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT. yang mampu menggunakan logikanya dengan baik, berinteraksi sosial, dam menjadi insan kamil yang dapat bertanggung jawab atas apa yang menjadi kewajibannya. Pendidikan islam yang ideal adalah membina potensi spiritual, emosional dan intelegensi secara optimal. Namun saat ini konsep ideal pendidikan dengan tataran Islam banyak yang tidak bisa terwujud sesuai harapan baik dalam segi sistem, sumber daya alamnya, sumber daya manusia, anggaran, terlebih  dari sisi komponen-komponen dalam pendidikan Islam. Hal ini dapat terjadi karen banyaknya problematika yang terjadi di dalamnya. Seperti yang akan dibahas selanjutnya mengenaik problematika-problematika yang sering terjadi dalam pendidikan Islam yang menyebabkan terhambatnya tujuan pendidikan. Permasalahan pendidikan Islam dalam perspektif filsafat  dapat dijabarkan menjadi beberapa problematika, seperti problematika ontologi, epistemologi, dan juga problematika aksiologi. Problematika-problematika tersebut menyerang komponen-komponen pendukung pendidikan Islam, karena kajian dalam pendidikan Islam senantiasa bertolak belakang pada problematika yang ada di dalamnya, terjadi kesenjangan antara fakta, dan realita, kontroversi antara teori dan empiris.

Pada era saat ini budaya Islam seperti sedang terjajah oleh budaya barat, meskipun Islam terlihat sangat berkembang di negara Indonesia dalam segala aspek baik pendidikan Islam, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Tanpa disadari berbagai problematika mengenai pengaruh budaya barat ini telah menyebabkan konsep ideal dalam tataran Islam tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tanpa sadar manusia telah berkurang kesempatannya untuk menjadi khalifah dan hamba yang baik dimuka bumi ini, banyak tanggung jawab nya dalam habluminallah dan habluminannas yang terhambat tanpa sadar. Problematika ketertinggalan ini juga terjadi pada komponen-komponen dalam pendidikan Islam.

Komponen pendidikan Islam yang pertama adalah tujuan pendidikan, tujuan dalam pendidikan Islam ini tergolong dalam problematika aksiologi atau pengetahuan tentang hakikat nilai dalam filsafat yang menjelaskan baik atau buruk, benar atau salah mengenai cara atau tujuan. Dalam era yang semakin maju ini pendidikan Islam dipandang menjadi pendidikan yang treksan tradisional dan konservatif, problematika tujuan Islam saat ini dikarenakan kurangnya pendidikan Islam dalam berorientasi pada nilai-nilai kehidupan pada masa yang akan datang, belum mampu untuk menghadapi perkembangan jaman yang kian maju, terlebih pengaruh budaya Barat yang menyebabkan tujuan dari pendidikan Islam mengalami ketertinggalan. Dalam hal ini kontribusi pemikiran yang paling tepat untuk menangani hal ini adalah dapat dilakukan dengan diperlukannya pemikiran untuk perubahan paradigma dan kerangka berpikir  yang memadai dalam penyelenggaraan tujuan pendidikan, agar pendidikan Islam memiliki tujuan yang mampu menarik stigma masyarakat untuk ikut serta mengembangkan Islam dengan menyeimbangkan kemajuan jaman. Berpikir secara mendalam untuk mewujudkan sebuah tujuan pendidikan yang sesuai dengan harapan di abad 21 ini.

Di urutan kedua dari komponen pendidikan Islam adalah pendidik atau tenaga pendidik yang memiliki peran yang sanagat penting dalam proses penyaluran dan pengembangan mengenai pendidikan Islam.  Menjadi pendidik juga merupakan tantangan sebagai khalifah yang wajib bertanggung jawab dengan bijak menjaga hubungan dengan manusia lain, seperti peserta didik, oleh karena itu seorang tenaga pendidik harus memiliki sifat yang dapat digugu dan ditiru oleh para peserta didiknya. Tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi dan sekaligus menjadi hamba yang baik akan sangat berpengaruh dihadapan masyarakat para peserta didiknya, terutama akhlakul karimahnya yang bisa dijadikan keteladanan untun para pserta didik yang di bimbingnya. Permasalahan saat ini adalah banyak tenaga pendidik yang memiliki ketertinggalan dalam metode menyampaikan materi pada peserta didik banyak juga pendidik yang hanya menyibukkan masalah honor, tunjangan, dll. Hal seperti inilah yang menjadi penyebab pendidik dalam perspektif filsafat yang tergolong dimensi aksiologi saat ini kurang bisa mewujudkan tujuan pendidikan dengan baik. Solusi alternatif untuk mengatasi problematika pendidik bisa dilakukan dengan merubah pola pembelajaran yang partisipatif antara guru dan murid sehingga prndidik dan peserta didik bisa menyeimbangkan perkembangan jaman dengan tetap eksis dalam proses pembelajaran Islam. Penanaman nilai ihsan pada tenaga pendidik juga diperlukan agar dalam penyelenggaraan pendidikan Islam dilakukan atas dasar berbuat baik terhadap sesama, fokus membimbing peserta didik menjadi insan kamil dan tidak hanya berfokus pada besarnya honor atau tunjangan yang didapat namun peran pendidik juga perlu disejahterakan karena peran pendidiklah proses pengembangan pendidikan Islam dapat terwujud tujuannya sesuai harapan.

Komponen pendidikan Islam yang selanjutnya adalah peserta didik. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri yang dimilikinya melalui serangkaian proses pendidikan baik pendidikan formal maupun informal, pada suatu jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan cara berpikirnya. Kemudia definisi peserta didik menurut perspektif filsafat pendidikan Islam adalah Individu yang sedang berkembang, baik psikis, psikologis, maupun sifat religiusnya dalam mengembangkan dirinya menjadi insan kamil dalam mengarungi kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak. Problematika yang sering dijumpai pada peserta didik di jaman yang semakin berkembang ini terutama adalah masalah kemerosotan akhlak, dimana arus budaya barat yang mempengaruhi peserta didik terutama kalangan remaja seperti gaya busana, makanan, musik, ataupun budaya barat yang telah merasuki para peserta didik membuat mereka kehilangan akhlakul karimahnya. Banyak terjadi bullying, kekerasan seksual, kurangnya sikap sopan santun  yang terjadi di kalangan peserta didik inilah sesungguhnya kemerosotan akhlak yang sering kali dijumpai tanpa disadari oleh banyak orang. Dalam dimensi aksilogis problematika yang terjadi pada peserta didik saat ini adalah di dalam menuntut ilmu, para peserta didik cenderung mengesampingkan nilai-nilai ihsan, seperti tidak bisa sopan santun terhadap orangtua, guru, tidak berbuat baik pada teman sebaya, lalai dalam beribadah, selalu berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah. Probelmatika lain yaitu para peserta didik saat ini juga mengesampingkan keramahmatan dan amanahdalam mengharap ridha Allah swt. Solusi alternatif dalam menghadapi peserta didik dalam kondidi demikian bisa dilakukan dengan pendekatan moral yang bisa dilakukan oleh tenaga pendidik maupun orang tua, kemudia yang paling utama adalah menanamkan kepada diri peserta didik nilai-nilai  etika, seperti nilai ibadah, nilai, ihsan, nilai masa depan, nilai dan niai kerahmatan. Meyakinkan pada mereka bahwa mereka merupakan seorang khalifah yang seharusnya bisa menjaga etikanya dalam menjalin hubungan dengan manusia lain atau habluminannas sekaligus menjalin hubungan dengan tuhan atau habluminallah. Dengan memberikan keyakinan bahwa kepada mereka bahwa mereka adalah insan kamil yang bertanggung jawab akan bumi dan juga ketaatan terhadap tuhan mereka.

Komponen yang ke empat dalam pendidikan Islam adalah kurikulum. Kurikulum merupakan pedoman susunan rencana dalam penyelnggaraan pendidikan yang akan dijalani dalam satu periode tertentu untuk mencapai tujuan pendidikan.. Dalam bahasa arab kurikulum disebut dengan manhaj yang berarti jalan terang, jalan terang bag peserta didik dalam memperoleh pengajaran dan keterampilan yang bernilai. Berhasil atau tidaknya sebuah kurikulum dijalanka oleh suatu sekolah atau madrasah bisa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain; faktor evaluasi monitoring, supervisi, pendidikan dan latihan personil. Dalam pendidikan Islam kurikulum memiliki beberapa hal yang mendasarinya seperti, Dasar filosofis, dimana kurikulum ini berperan untuk mengetahui nilai yang akan dicapai, kemudian ada dasar sosiologis, dasar psikologis, dasar agama, dasar falsafah, dan juga dasar sosial. Dalam filsafat pendidikan islam kurikulum di bangun atas dasar yang kuat dan kokoh yaitu al qur’an dan juga hadits, kurikulum hendaklah disesuaikan dengan kemampuan fitrah manusia agar terlahir manusia yang memiliki ilmu, keterampilan, dan juga karakter yang tidak menyimpang dari ajaran Islam.

Problematika yang terjadi dalam kurikulum atau pelaksanaan kurikulum pendidikan Islam yang sering terjadi antara lain kurikulum hanya di dominasi oleh aspek kognitif saja, kurikulum yang berisi materi secara padat namun minim akan nilai, kurikulum kurang memperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dan sejauh mana mereka bisa menyanggupi sesuai kurikulum dalam satu periode, serta dominasi pendekatan normatif dalam pengembangan isis kurikulum tersebut. Permasalahan kurikulum ini dalam perspektif filsafata pendidikan tergantung problematika dalam dimensi ontologis, solusi alternatifpenyelesaian masalah kurikulum ini bisa diatasi dengan dengan pengarahan kurikulum terhadap peserta didik agar dapat menghasilkan verbal learning yaitu kemampuan memperoleh data dan informasi yang harus dipelajari berkaitan dengan proses pembelajaran yang dilakukan oleh Allah swt. kepada nabi Adam . Kurikulum hendaknya juga bisa memberikan penanaman kepada peserta didik  mengenai alam tak terbatas  yaitu ada alam rohaniah atau alam spiritual yang mengantarkan manusia pada alam keabadian. Selain itu juga penanaman mengenai kesemestaan supaya para peserta didik dapat mewujudkan harmoni pada semesta untuk bagaimana menentukan kehidupan mereka di masa depan. Sebuah sekolah atau madrasah juga bisa merubah paradigma Yng sebelumnya berbasis sisteti-materialistik menjadi religius. Solusi ini juga bisa dilakukan untuk mengatasi kemerosotan moral dan akhlak karena pengaruh barat yang kian meluas merasuki jiwa para peserta didik.

Komponen dalam pendidikan Islam selanjutnya adalah metode, metode adalah langkah yang bisa dilakukan pendidik untuk membantu membeimbing peserta didik dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Metode tidak hanya terdiri dari satu langkah saja, misalnya dalam satu permasalahan metode penyelesaian yang dapat ditempuh adalah beragam tergantung tingkatannya masing-masing.  Metode pendekatan dalam pendidikan Islam bisa dengan metode pengalaman, pendekatan pembiasaan, pendekatan emosional, pendekatan rasioanal, pendekatan fungsional, dan juga pendekatan keteladanan. Metode dalam perspektif pendidikan Islam sangat menghargai peserta didik dan memberikan kebebasan selama kebebasan tersebut masih sesuai dengan fitrahNya dan masih sesuai dengan ajaran Islam. Pendidik bertanggung jawab atas pendidikan karakter peserta didiknya dan tidak boleh memaksa, oleh karena itlah mengapa metode pendidikan Islam sangat menghargai sebuah kebebsan individu. Dasar metode pendidikan Islam didasari oleh dasar agamis, dasar biologis, dasar psikologis, dan juga dasar sosiologis. Bnayak sekali metode yang bisa digunakan pendidik untuk melakukan proses belajar mengajar dengan anak didik yang bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan anak didik tersebut, banyaknya metode pendekatan yang bisa digunakan bukan tidak mungkin pendekatan melalui berbagai metode tersebut tidak memiliki permasalahan di dalamnya, permasalahan metode pendekatan dalam perspektif pendidikan Islam antara lain; dalam melakukan metode pendekatan ini Islam seringkali dicap sebagai pendidikan yang tradisional denga proses pembelajaran yang lemah teknologi, metodologi penyampaiannya juga terkesan konvensioanl  dan lebih menekankan pada kemampuan untuk para peserta lebih menghaflkan teks-teks keagamaan daripada permasalahan modern yang saat ini terjadi, bentuk metodologi nya bersifat statis indokrinatif-doktriner. Untuk mengatasi pendekatan metode yang sering kali dicap konvensional dan ketinggalan jaman ini bisa diatasi dengan melakukan rekonstruksi kurikulum menjadi berbasis tauhid, kemudian dilakukan profesionalisme tenaga pendidik yang meliputi kompetensi personal, kompetensi pendagigis atau kemampuan menguasai dan memahami anak didik, kompetensi profesional, sekaligus kompetensi sosial, dengan profesionalisme tenaga pendidik tersebut tenaga pendidik lebih memahami bagaimana kondisi pendidikan dan karakteristik peserta didik pada jaman sekarang ini terlebih dalam kondir=si pengaruh barat yang lebih mendominasi. Dengan profesionalnya tenaga pendidik, tenaga pendidik bisa melakukan langkah langkah pendekatan dengan menggunakan metode yang sesuai diterapkan pada jaman sekarang ini. Sehingga dengan pemenuhan kompetensi ilmiah pada pendidik, seorang pendidik mampu menemukan trobosan metode yang diharapkan sebagaimana harapan dalam kajian epistemologis pendidikan Islam.

Komponen pendidikan Islam yang terakhir yaitu ada evaluasi pendidikan. Evaluasi adalah bagian yang penting dalam pendidikan Islam. Pengertian evaluasi adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan taraf  kemampuan suatu pekerjaan di dalam pendidikan Islam sebagai penaksiran perkembangan anak didik dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Evaluasi pendidikan dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan peserta didik dalam menerima dan memahami pembelajaran yang telah diberikan oleh tenaga pendidik yang dilakukan secara komprehensif dari seluruh aspek kehidupan, evaluasi dilakukan guna menentukan langkah-langkah atau metode yang bisa dilakukan untu membenahi kualitas pembelajaran peserta didik yang di dapatnya selama proses pembelajaran dalam satu periode tertentu, sekaligus mengetahui apa saja hambatan yang dialami peserta didik selama proses pembelajaran. Dalam perspektif filsafat Islam evaluasi merupakan suatu proses untuk memperoleh informasi dan mengukur sejauh mana kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang diberikan sekaligus pengajaran untuk mencapai tujuan pendidikan agara peserta didik menjadi sosok yang yang tidak hanya bersikap religius saja namun menjadi pribadi yang berilmu, beramal shaleh, menjadi khalifah sekaligus hamba yang baik.

Jenis-jenis evaluasi yaitu evaluasi formatif, evaluasi sumatif, evaluasi untuk penempatan, dan evaluasi diagnotis. Problematika evaluasi masih byanyak dijumpai di era modern ini oleh karena pengaruh barat sangat kuat permasalahan evaluasi pendidikan ini menyebabkan masih adanya masalah atau hambatan dalam pengimplemetasian evaluasi. Permasalahan evaluasi dari tenaga pendidik, banyak tenaga pendidik yang memilih jalur instan dalam mengevaluasi peserta didiknya banyak peserta didik yang nilainya di bawah KKM dengan kualitas akhlak rendah namun direkayasa dalam upya evaluasinya demi mempertahankan nama instansi tertentu. Dari sisi lembaga sekolah yang tidak melakukan pembaharuan pada program kinerja sekolahnya, meskipun telah mengetahui apa saja kekurangan dan hambatan yang dialami pesserta didik dan tenaga pendidik dalam proses belajar mengajar. Tenaga pendidik yang menyalurkan ilu tidak sesuai pengalaman pendidikannya juga menjadi problematika tersendiri dalam upaya penilaian peserta didik. Solusi alternatif penyelesaian problematika evaluasi dalam pendidikan Islam saat ini yang bisa dilakukan adalah dengan mewujudkan kondisi mental-moral dan spiritual untuk mengembangkan etik mora pendidikan. Penilaian yang dilakukan terhadap peserta didik merupakan penilaian yang murni dan nyata agar solusi dan langkah dalam proses pengembangan berikutnya benar-benar memiliki dampak yang sesuai pula. Dalam dunia pendidikan nilai estetika hendaknya menjadi hal penting dalam rangka pengembangan pendidikan Islam. Dalam evaluasi mengikutsertakan antara tenaga pendidik, guru, orang tua , pemerintah, masyarakat luas sehingga mewujudkan kegiatan evaluasi yang sesuai dengan Islam yang senantiasa berkesinambungan antara kebutuhan da solusi serta releven hingga akhir zaman.

Dengan banyaknya problematika-problematika yang terjadi pada komponen-komponen pendidikan Islam yang dijelaskan diatas, dengan demikian hal-hal tersebut yang masih sampai saat ini terjadi dan menyebabkan mengapa konsep ideal dalam tataran pendidikan Islam masih tidak bisa sesuai dengan yang diharapkan. Ketertinggalan pendidikan Islam dari pendidikan barat juga menjadi permasalahan yang kian serius saat ini, cenderung pengaruh-pengaruh barat mempengaruhi masyarakat Islam yang menyebabkan pendidikan Islam kian dipandang sebelah mata dan dipandang sebagai ajaran konvensional yang tradisional dan tertinggal.

Pendidikan Islam yang kian ehilangan daya tarik ini, dapat diatasi dengan diperlukan adanya perubahan paradigma dan kerangka berpikir pada manusia, masyarakat dan dunia. Manusia ditugaskan oleh Allah untuk menjaga bumi dengan baik sebagai khalifah sekaligus hamba yang baik, insan kamil yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat, hendaknya memahami pendidikan Islam dan bertanggung jawab mendidik dirinya sendiri, memahami hakikat kemanusiaannya, memahami hakikat kehidupan sekaligus tugas-tugasnya serta tujuan kehidupannya. Merubah paradigma ideologis menjadi paradigma ilmiah yang berpijak pada wahyu Allah swt. dapat mengikat tradisi ilmiah, terbuka, kreatif dan juga dinamis.

Dalam rangka menyebarkan visi dan misi pendidikan Islam dengan melalui metode, media sekaligus pengajaran hendaknya para praktisis, pendidik turut menanamkan nilai-nilai aksilogis yang terdapat dalam lingkup ilmu pendidikan Islam, antara lain nilai ibadah dalam segala proses dan berpikirnya senantiasa tercatat sebagai amal ibadah, nilai ihsan dengan berbuat dan bertindak hendaknya dikembangkan dan didasari atas dasar berniat berbuat kebakan terhadap sesama dan melakukan kebaikan-kebaikan seolah-olah Allah sedang melihatnya, kemudia nilai masa depan dimana diharuskan mengentaskan berbagai ketertinggalan dan ketidaksesuaian yang dihadapi dengan memperhatikan masa depan yang jauhlebih baik dengan segala bekal untuk menyiapkan tantangan-tantangan yang jauh berbeda dari sebelumnya karena pengaruh barat ono. Nilai kerahmatan dengan mementingkan segala perbuatan yang dilakukan haruslah memiliki nilai kemaslahatan, terakhir adalah nilai dakwah, pengembangan pendidikan Islam merupakan wujud penyebaran  syi’ar Islam sebagaimana dalam Q.S. Hamim al-Sajadah:33. Dengan berbegang teguh pada  landasan Islamiah yang kuat yang menjadi pegangan dalam lingkup pendidikan Islam, maka pendidikan Islam dengan seluruh komponen-komponen di dalamnya dapat membuat Islam tetap abadi dan memiliki konsep ideal yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat Islam.   

DAFTAR PUSTAKA

Wardi, Moh.( 2014 ). "PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM
DAN SOLUSI ALTERNATIFNYA"
Dalam 
https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=PROBLEMATIKA+PENDIDIKAN+ISLAM++DAN+SOLUSI+ALTERNATIFNYA&btnG=#d=gs_qabs&u=%23p%3DgCcLl7d9nkcJ Diakses pada Juni 2021.

Mahmudah, Ummi. "Perbandingan Filsafat Pendidikan Barat dan Pendidikan Islam" Dalam https://scholar.google.com/scholar?hl=id&as_sdt=0%2C5&q=Perbandingan+Filsafat+Pendidikan+Barat+dan+Pendidikan+Islam&btnG=#d=gs_qabs&u=%23p%3Dy5pesPcI4w0J Diakses pada Juni 2021.

Zuhriyah, Lailatuz.(2017). "Filsafat Pendidikan Islam". Tulungagung 150-215

Komentar